Minggu, 22 Februari 2015

Sejarah Pesantren (Penyebaran Pesantren abad ke-19 sampai awal abad ke-20)



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Eksistensi pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Isla tradisional di Tatar Jawa Barat pada periode 1800-1945 tidak bisa dipandang sebelah mata. Kehadiran pesantren menempati posisi yang sangat strategis dalam kehidupan masyarakat. Itulah sebabnya, posisi dan keberadaan pesantren mendapatkan tempat yang utama karena dianggap mampu memberi pengaruh bagi kehidupan sebagian besar lapisan masyarakat.
Pondok pesantren merupakan lembaga yang sangat penting dalam penyebaran dakwah Islam. Dikatakan demikian karena kegiatan pembinaan calon-calon guru agama, kyai-kyai, atau ulama hanya dapat terjadi di pesantren. Dalam makalah ini, Kami akan memaparkan pesantren-pesantren yang ada pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Penyebaran Pesantren di Jawa Barat Abad ke-19?
2.      Bagaimana Penyebaran Pesantren di Jawa Barat Awal Abad ke-20?
C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui Penyebaran Pesantren di Jawa Barat Abad ke-19.
2.      Untuk mengetahui Penyebaran Pesantren di Jawa Barat Awal Abad ke-20.









BAB II
PEMBAHASAN
A.     Penyebaran Pesantren di Jawa Barat Abad ke-19 (1800-1900)
Jumlah pesantren di wilayah Jawa Barat, pada waktu dulu, dengan sekarang pasti berbeda. Dalam konteks sekarang, jumlah pesantren di wilayah Jawa Barat dipastikan lebih banyak. Hal ini tentu saja berbeda dengan jumlah pesantren pada abad ke-19 M. Pada abad ke-19 M, jumlah pesantren mungkin masih sangat terbatas. Bahkan, mungkin hanya dapat dihitung beberapa puluh atau mungkin untuk jumlah ratusan pun tidak mencapainya.[1]
Berangkat dari kenyataan ini, walaupun belum ditemukan adanya data statistik yang menjelaskan berapa banyak jumlah pesantren di Jawa Barat pada masa Pemerintah Belanda, terutama pada abad ke-19 sampai tahun 1945, namun dapat dipastikaan bahwa keberadaan pesantren di wilayah Jawa Barat, berdasarkan peta penyebarannya, masih sangat sedikit. ssss, perlu diketahui bahwa di beberapa daerah di wilayah Jawa Barat, pada masa Pemerintah Hindia-Belanda, ternyata, terdapat beberapa pesantren yang telah berdiri. Sampai saat ini, pesantren itu ikut dan terlibat aktif dalam mengembangkan syiar Islam. Ia juga aktif berperan dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Karena itu dapat dikatakan bahwa usia pesantren yang terbilang sudah tua, dan memiliki pengaruh yang sangat besar di antara pesantren lainnya yang ada dan tersebar di wilayah Jawa Barat.[2]
Berikut adalah di antara beberapa pesantren yang sudah berusia tua dan memberi pengaruh yang sangat besar bagi penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat.
1.      Pesantren al-Falah-Biru Garut
Pesantren al-Falah Biru merupakan pesantren kelanjutan dari Pesantren Biru yang didirikan oleh Kyai Akmaludin – seorang penghulu Timbanganten/ Garut, pada 1749 M. Setelah Kyai Akmaludin meninggal, Pesantren Biru dipimpin dan dikelola oleh Kyai Fakarudin, Kyai Abdul Rosyid, Kyai Irfan, Kyai Abdul Qoim, Kyai Muhammad Adra’ie (Ama Biru).[3]
Setelah masa Raden Bagus Kyai Muhammad Adra’ie berakhir, lokasi Pesantren Biru dipindahkan ke Kampung Torikolot, dan diberi nama tambahan “al-Falah” yang dipimpin oleh putranya, Raden Kyai Muhammad Asnawi Kafrawi Faqieh (Bani-Faqieh). Kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan oleh Syekh Badruzzaman, Kyai Bahrudin, Kyai Enjang Saepudin, dan Kyai Hanif Mamun Budi Kafrawi.[4]
Pada periode kepemimpinan Syekh Badruzaman[5], Pesantren al-Falah-Biru menjadi basis perjuangan dalam rangka menentang pendudukan Jepang dan Agresi Militer Belanda I. Pada masa pendudukan Jepang dan Agresi Militer Belanda II, Syekh Badruzaman pernah membentuk pasukan Hizbullah dan Hizbullah fi Sabilillah. Ia juga memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda dengan melakukan kaderisasi para mujahid melalui khalwat. Karena Pesantren al-Falah-Biru tidak aman dan sering menjadi sasaran serangan musuh, ia pernah mengungsi di Cikalong Wetan (Purawakarta), Padalarang, Majenang (Jawa Tengah) dan Taraju (Tasik). Meskipun dalam pengungsian, ia terus mengembangkan ilmu agama di tempat-tempat itu.[6]
Selain Pesantren al-Falah-Biru, pesantren yang berdiri sejak masa Pemerintah Hindia-Belanda, dan berperan aktif dalam pengembangan syiar Islam adalah Pesantren Sumur Kondang. Tidak hanya melakukan fisik untuk melawan penjajah, sejak berdirinya, pesantren ini juga menyelenggarakan kegiatan pendidikan di daerah Garut. Pesantren Sumur Kondang diperkirakan telah ada sejak decade pertama abad ke-19. Pendirinya adalah Kyai Nuryayi, dan dilanjutkan oleh Kyai Nursalim dan Kyai Nurhikam. Pesantren Sumur Kondang merupakan pesantren yang dapat dipandang sebagai cikal bakal Pesantren Keresek. Dikatakan demikian karena pendiri Pesantren Keresek, yaitu Kyai Tobri merupakan anak dari Kyai Nurhikam.[7]
Pesantren Keresek[8] ini merupakan pesantren ketiga yang masih dapat ditelusuri keberadannya di Kabupaten Garut. Pesantren ini berlokasi di Desa Cibundar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Pesantren Keresek diperkirakan telah ada sejak 1887 M. Pada masa Kyai Tobri, tepatnya 1887, bersamaan dengan dibelinya sebidang tanah seluas 2 ha, ia berpindah dan membangun sebuah bangunan sederhana berukuran 7x7 m sebagai tempat belajar, di tambah masjid dan rumah tempat tinggal Kyai sebagai pengajar dan sesepuh. Hingga kini, keberadaan Pesantren Keresek telah dipimpin oleh liama generasi. Generasi pertama adalah Kyai Tobri. Selain sebagai perintis, ia juga merupakan figure Kyai yang menjadi peletak dasar keberadaan Pesantren Keresek.
Sealin Pesantren al-Falah-Biru, Sumur Kondang, dan Pesantren Keresek, pesantren yang sudah eksis di Garut sejak abad ke-19 adalah Pesantren al-Hidayah. Pesantren ini berlokasi di Panembong, Bayongbong, Garut. Pesantren al-Hidayah didirikan pada 1835 oleh Raden Kyai Mohammad Hasan. Kyai Mohammad Hasan mendirikan Pesantren al-Hidayah setelah ia melihat perkembangan Islam yang sangat menggembirakan di daerah tersebut.[9]
Kyai Mohammad Hasan adalah anak Kyai Kasim; salah seorang penyebar Islam di daerah Panembong yang wafat pada 1710 M. Menurut informasi, setelah Sultan Agung, Raja Kerajaan Mataram mengadakan penyerbuan pada bad ke-17, terdapat salah seorang di antara prajuritnya yang tidak ikut kembali. Prajurit itu bernama Mohammad Kasim. Ia berhenti di sebuah hutan yang masih termasuk wilayah Garut dalam perjalanan kembali ke Mataram. Di tengah hutan tersebut, Mohammad Kasim membuat rumah sederhana dan tempat beribadah (Mas’udi, 1986: 28-29 dalam Kusdiana, 2014: 126). Ternyata, tempat yang dihuni oleh Muhammad Kasim, seiring dengan berjalannya waktu, semakin ramai hingga akhirnya ia berkembang menjadi sebuah perkampungan yang ramai. Karena ramainya itu, kampung itu diberi nama Panembong, kira-kira 9 km sebelah barat Kota Garut. Di tempat ini, Kyai Mohammad Kasim menyampaikan dakwah Islam dan memberikan bimbingan tentang cara bertani kepada penduduk setempat.
Kepemimpinan Raden Kyai Muhammad Hasan dalam mengelola dan memimpin Pesantren al-Hidayah tidak berlangsung lama karena ia meniggal pada 1835. Sepeninggal Kyai Muhammad Hasan, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh puteranya, Raden Mohammad Kosasih. Estafeta kepemimpinan di Pesantren al-Hidayah terus berlanjut sampai kemudian pada decade ke delapan dari abad ke-20 dipimpin oleh Kyai Abdul Salam. Pada masa kepemimpinan Kyai Abdul Salam, Pesantren al-Hidayah memiliki areal tanah seluas 0,14 ha. Bangunannya meliputi 4 lokal sarana pendidikan, dan 37 kamar untuk 182 santri mukim. Sejak 1946, pesantren ini telah menerapkan sistem klasikal.[10]
2.      Pesantren Ciwedus, Pesantren Lengkong-Kuningan dan Pesantren Santi Asromo-Majalengka
Di Cilimus, Kuningan terdapat Pesantren Ciwedus yang didirikan oleh K. H. Kalamudin, ulama asal Banten, pada awal abad ke-18. Sepeninggal K. H. Kalamudin Pesantren Ciwedus dilanjutkan oleh menantunya yang bernama K. H. Syueb. Setelah K. H. Syueb meninggal, digantikan oleh oleh K. H. Adroi. Selanjutnya, setelah K. H. Adro’i wafat, Pesantren Ciwedus dipimpin oleh K. H. Shobari. Menurut Obing Asy’ari pada masa kepemimpinan K. H. Shobari Pesantren Ciwedus banyak didatangi oleh para santri dari dalam dan luar Ciwedus yang bermaksud belajar di pesantren tersebut. Pada masa kepemimpinan K. H. Shobari pula pesantren ini banyak mengalami kemajuan, bahkan dapat dikatakan pada masa K. H. Shobari inilah pesantren Ciwedus pernah mengalami masa-masa keemasannnya hingga tahun 1916 ketika K. H. Shobari meninggal dunia.[11]
Sejak berdiri, Pesantren Ciwedus telah melahirkan ulama-ulama atau para kiyai yang kemudian banyak mendirikan pesantren baru di beberapa daerah di Pulau Jawa, seperti di antaranya K. H. Habib Abdurohman di Semarang, Habib Jagasatru di Cirebon, K. H. Sanusi di Babakan Ciwaringin Cirebon, K. H. Syatibi dan K. H. Hidayat di Cikijing-Majalengka, K. H. Zaenal Mustofa di daerah Kandang Sapi-Cianjur, K. H. Abdul Halim (pendiri PUI) di Majalengka, K. H. Mutawali dan K. H. Mahfudz di Cilimus Kuningan, K. H. Sudjai di Gudang-Tasikmalaya, K. H. Hambali di Ciamis, K. H. Syamsuri Baedowi di Tebuireng-Jawa Timur, K. H. Ilyas di daerah Cibeunteur (Banjar) dan lain-lain.[12]
Pesantren tua yang juga terkenal di Kuningan adalah Pesantren Lengkong. Pesantren ini didirikan oleh Syekh Haji Muhammad Dako, utusan dari Cirebon, pada sekitar akhir abad ke-18. Pesantren Lengkong terdapat di daerah Lengkong, Kecamatan Garawangi Kab. Kuningan. Setelah Syekh Haji Muhammad Dako meninggal pesantren diteruskan oleh Kiyai Abdul Karim, Kiyai Fakih Tolab, Kiyai Lukmanul Hakim atau yang dikenal sebagai Kiyai Hasan Maolani. Bila ditelusuri, dari keturunan dan murid-murid K.Hasan Maolani inilah banyak menurunkan para penghulu di Kuningan.[13]
Sementara itu, salah satu pesantren tua di Majalengka yang sekarang masih terus berkembang adalah Pesantren Santi Asromo yang didirikan oleh K. H. Abdul Halim pada bulan April tahun 1932. Kendati demikian jauh sebelum mendirikan Pesantren Santi Asromo, K. H. Abdul Halim sudah mendirikan lembaga pendidikan yang dapat dipandang sebagai cikal bakal kelahiran dari Pesantren Santi Asromo. Lembaga pendidikan tersebut bernama Majlisul Ilmi yang didirikan pada tahun 191158 sebagai lembaga yang menjadi tempat kegiatan pendidikan agama, yaitu berupa mushala/surau yang terbuat dari bambu. Selanjutnya pada tahun 1912 ia juga mendirikan organisasi yang bernama Hayatul Qulub yang dengan melalui organisasi ini, selain ia banyak mengembangkan gagasan pembaruan pendidikan, ia juga banyak melibatkan bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan. Ia juga pada tahun 1916 mendirikan organisasi yang bernama Jamiyah Ianah Muta’allimin sebagai usaha untuk terus mengembangkan pendidikan (Wanta, 1997).
Seperti diketahui pendirian Pesantren Santi Asromo itu sendiri dilatarbelakangi dari gagasan briliannnya yang disampaikan melalui risalahnya yang berjudul Afatul Ijtimaiyah wa Ilajuha dalam Kongres Persyarikatan Oelama IX pada tahun 1931. Dalam risalahnya itu ia mencetuskan gagasannya bahwa anak didik di masa depan harus dapat hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Atas dasar pertimbangan itu, setiap anak didik harus diberi bekal keterampilan yang cukup, sesuai dengan kecenderungan dan bakat masing-masing.
Untuk meralisasikan gagasan tersebut pada kongres tersebut telah disepakati sekaligus memberikan dukungan dan kepercayaan sepenuhnya kepada K. H. Abdul Halim untuk mengelola sebuah program pendidikan yang tempatnya dibangun secara terpisah dan khusus. Program pendidikan itu kemudian terkenal dengan nama Santi Asromo. Gagasan K. H. Abdul Halim ini kemudian disampaikan kembali dalam Kongres Persyarikatan Oelama X tanggal 14-17 Juli 1932 di Majalengka dengan menjadi sebuah keputusan kongres.62 Akhirnya Pengurus Besar Persyarikatan Oelama (PB PO) Majelis Perguruan memutuskan bahwa, sistem pondok pesantren, selain mengajarkan pelajaran agama dan pengetahuan umum seperti sejarah dunia, bahasa Belanda, diberi juga pelajaran praktik bercocok tanam, tukang kayu, kerajinan tangan dan lainnya untuk memenuhi pendidikan akliyah, pendidikan ruhaniyah dan pendidikan amaliyah.
Kemudian, program pendidikan Santi Asromo bertujuan agar kelak anak-anak dapat mencari rizki yang halal tidak memiliki ketergantungan terhadap bantuan dari luar, bahkan secara berangsurangsur dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan percaya pada diri sendiri. Selanjutnya, para siswa wajib tinggal di asrama atau pondok selama 5 atau 10 tahun, dan diharuskan membawa bekal tiap-tiap bulan yang diserahkan kepada pengurus, tidak dipungut uang sekolah, dan anak-anak harus belajar sendiri.[14]
Program pendidikan Santi Asromo terus berkembang. Pendirian Santi Asromo banyak mendapat dukungan yang sangat besar dari masyarakat dan para tokoh Persyarikatan Oelama (PO). Mereka banyak memberi dukungan moril maupun materiil. Mata pelajaran agama yang diajarkan di Pesantren Santi Asromo terdiri atas al-Quran, Qiraah, Khat, Imla, Ilmu Tauhid, Fiqih, Lugah, Ilmu Tajwid, Muhaddasah, Insya, Ilmu Nahwu, Ilmu Sharaf, Tarikh dan Akhlak. Sedangkan mata pelajaran umum yang diajarkan di Pesantren Santi Asromo meliputi menggambar, berhitung, membaca dan menulis hurup Jawa dan Latin, ilmu bumi, bahasa Indonesia, serta ilmu tumbuh-tumbuhan. Adapun mata pelajaran keterampilan yang disajikan mencakup bercocok tanam, beternak, perikanan, dan pekerjaan tangan seperti kerajinan kayu, bambu dan besi. Selain itu diajarkan pula keterampilan menenun dan menjahit pakaian serta belajar membuat minyak wangi dan sabun.64
Dengan berbagai kegiatan seperti itu, santri Pesantren Santi Asromo dikenal dengan sebutan Santri Lucu, yang maksudnya bahwa para santri tidak saja pandai mengaji, menulis dan memiliki ilmu pengetahuan, akan tetapi mereka juga memeiliki keahlian (skill) dalam berbagai lapangan kerja. Dengan demikian kelak di dalam menjalani kehidupan di msyarakat para santri diharapkan dapat hidup mandiri bahkan membantu orang lain. Di samping mengembangkan bidang pendidikan agama, umum dan keterampilan, K. H. Abdul Halim juga memperluas usaha bidang dakwah. Dalam bidang dakwah, ia selalu menjalin hubungan dengan beberapa organisasi Islam lainnnya di Indonesia, seperti dengan Muhammadiyah di Yogyakarta, Sarekat Islam (SI) di Surabaya, dan Al-Ittihadiyatul Islamiyah di Sukabumi. Inti dakwahnya adalah mengukuhkan ukhwah Islamiyah dengan penuh cinta kasih, sebagai usaha menampakkan syiar Islam. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa dakwah yang dilakukan K. H. Abdul Halim adalah mempersatukan umat Islam guna mengusir kaum penjajah.[15]
3.      Pesantren Gentur Cianjur
Keberadaan Pesantren Genturyang berlokasi di Desa Jambudipa Warungkondang Cianjur, diduga, merupakan pesantren tertua di Kabupaten Cianjur. Kehadiran Pesantren Gentur di wilayah Cianjur ini sezaman dengan Pesantren Keresek di Garut. Pesantren ini ternyata masih memiliki hubungan geneologis (kekeluargaan) dengan Pesantren Keresek di Garut karena pendiri Pesantren Keresek dan Pesantren Gentur adalah dua bersaudara; kakak-adik. Sampai sekarang, menurut M. A. H. Ismatulah, Pesantren Gentur diperkirakan telah berumur kurang lebih 200 tahun.[16]
Pesantren Gentur didirikan oleh Kyai Muhammad Said. Ia merupakan generasi pertama sekaligus peletak dasar kehadiran Pesantren Gentur. Setelah Kyai Muhammad Said meninggal ketika melaksanakan ibadah haji ke Mekkah, kepemimpinan Pesantren Gentur dilanjutkan oleh anaknya, Kyai Syatibi. Setelah Kyai Syatibi meninggal, Pesantren Gentur dipimpin oleh Kyai Abdullah Haq Nuh. Pasca-kepemimpinan Kyai Abdullah Haq Nuh, pesantren ini diteruskan oleh Kyai Amadar. Sekarang, Pesantren Gentur masih eksis dan dipimpin oleh Kyai Cucu Saliskalimatullah.
Pesantren lain yang sudah berdiri sejak masa pemerintah Hindia-Belanda dan sampai sekarang masih eksis dalam pengembangan Islam, serta berperan-aktif dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan di Cianjur adalah Pesantren Kandang Sapi. Pesantren ini didirikan oleh Kyai Opo Mustofa pada 1897 M. Kyai Opo Mustofa, sebagai pendiri, sebenarnya, bukanlah putra kelahiran Cianjur. Jika ditelusuri asal-usul geneologinya, ternyata, ia berasal dari Garut, tepatnya daerah Cibatu yang pada 1897, beliau hijrah dari Garut ke Cianjur.Kyai Opo Mustofa lahir pada 1848 M/ 1256 H dan wafat pada 1977 M/ 1398 H. Ia merupakan anak dari Kyai Arkan bin Syekh Jamhari Cikondang bin Syekh Abdul Jabar bin Syekh Jafar Sidik Gunung Haruman, Garut. Sejak berdirinya pada 1897 sampai meninggalnya pimpinan pondok pesantren pada 1977. Di antara para santri yang belajar di pesantren ini, umumnya, kebanyakan datang dari Cianjur, Bogor, Sukabumi dan Tasikmalaya. Tapi, ada juga yang berasal dari luar jawa, misalnya, Jambi.[17]
Salah satu karaktersitik yang sangat menarik dari Pesantren Kandang Sapi dibandingkan dengan keberadaan pesantren-pesantren lainnya yang terdapat di daerah Cianjur adalah komitmen terhadap tradisi kesederhanaan. Jelasnya, sejak Kyai Opo Mustofa hingga kini, pesantren ini tidak menggunakan alat-alat elektronik modern, seperti pengeras suara atau sound system. Generasi penerus pascsameninggalnya Kyai Opo Mustofa pun tetap komitmen pada sikap yang unik ini. Para penerusnya bukan tidak mau melihat dan menolak kemajuan zaman, tetapi semua ini dilakukan dalam rangka memelihara tradisi yang sudah dilakukan oleh Kyai Opo Mustofa di masa-masa sebelumnya.
Selain Pesantren Gentur dan Kandang Sapi yang sudah ada sejak masa Pemerintahan Hindia-Belanda dan hingga kini masih eksis dalam kegiatan pengembangan syiar Islam dan pendidikan di daerah Cianjut, ada pula namaPesantren Jambudipa. Menurut Choerul Anam, Pesantren Jambudipa didirikan pada 1894 M oleh Kyai Mohammad Holil (Being Sambong). Pada awal berdirinya, pesantren ini hanya berupa masjid dan kobong. Di tempat yang sangat sederhana tersebut, Kyai Mohammad Holil, sesuai dengan keahliannya, pada mulanya, pesantren hanya mengajarkan Ilmu Al-Qur’an dan Fiqih kepada santri-santrinya.
Pada 1917, Kyai Mohammad Holil meninggal. Selanjutnya, Pesantren Jambudipa dipimpin Kyai Fahrudin. Pada masa Kyai Fahrudin, Pesantren Jambudipa tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an, tapi juga mulai melakukan kegiatan berbagai pengajian kitab kuning. Pada 1935, untuk memenuhi keinginan masyarakat, didirikanlah bangunan majlis talim sebagai wadah bagi pengajian masyarakat umum. Pengajian melalui majlis talim ini dilakukan setiap hari Senin pagi untuk laki-laki dan Selasa pagi untuk wanita. Biasanya, tidak kurang 1.500 pria dan 1.700 wanita menghadiri pengajian tersebut. Mereka datang dari Cianjur, Sukabumi dan Bogor.
Di Pesantren Jambudipa, para santri selain berasal dari daerah sekitar Cianjur, Banten dan Sukabumi, ada juga santri yang berasal dari luar pulau Jawa, tepatnya dari Sumatera. Beberapa nama santri yang kemudian menjadi tokoh dan ulama penting yang merupakan jebolan Pesantren Jambudipa adalah Abah Anom (Kyai A. Shohibul Wafa Tajul Arifin), pimpinan Pondrok Pesantren Suryalaya; Kyai Jumhur, pengasuh Pesantren Ciwaringin Bogor dan Kyai Acep, pimpinan pondok Pesantren di daerah Cilember.
4.      Pesantren Minhajul Karomah Cibeunteur-Banjar
Pesantren di wilayah Priangan yang sudah ada sejak masa Pemerintahan Hindia-Belanda, ternyata, tidak hanya di temukan di daerah Garut dan Cianjur. Di Banjar pun jejak keberadaan pesantren yang berusia tua juga masih dapat dilacak. Bahkan, hingga kini, beberapa pesantren masih eksis dalam melakukan kegiatan pengembangan syiar Islam dan pendidikan. Salah satu nama pesantren tersebut adalah Pesantren Minhajul Karomah Cibeunteur yang terletak di Kota Banjar.
Pesantren CIbeunteur berdiri sejak awal abad ke-19. Pesantren ini diperkirakan berdiri paada 1809 M atas inisiatif Kyai Mohammad Ilyas. Sepeninggal Kyai Mohammad Ilyas, Pesantren Cibeunteur diteruskan oleh Kyai Mohammad Holil. Kyai Mohammad Holil merupakan anak kedua dari Kyai Mohammad Ilyas. Sebelum memimpin Pesantren Minhajul Karomah, Mohammad Holil pernah belajar kepada kyai dari beberapa pesantren lain, antara lain, K.H. Mohammad Sobari di Pesantren Ciwedus Kuningan.
Setelah Kyai Mohammad Holil wafat, estafeta kepemimpinan Pesantren Cibeunteur dilanjutkan oleh kedua orang kakak dari Kyai Dudung Abdul Wadud, yaitu Kyai Bahrudin memimpin dan mengelola Pesantren Minhajul Karomah sampai wafat, Pesantren Minhajul Karomah diteruskan oleh adiknya, yaitu Kyai Sudjai. Pascakepemimpinan Kyai Sudjai, pesantren ini diteruskan oleh Kyai Dudung Abdul Wadud. Sebelum Kyai Dudung Abdul Wadud belajar kepada orang tuanya, ia pernah menimba ilmu di Pesantren Cikalama (Cicalengka) dan Pesantren Keresek. Jadi, hingga kini, Pesantren Cibeunteur yang hingga kini masih eksis ini sudah dipimpin oleh lima orang kyai.[18]
5.      Pesantren Mahmud, Sukafakir dan Sukamiskin
Pesantren Mahmud adalah pesantren yang telah berdiri sejak abad ke-19 di Bandung. Menurut salah seorang ajengan di Pesantren Cigondewah, pendiri pesantren ini adalah Buya Odang yang dilanjutkan oleh puteranya Buya Uya. Diduga, Pesantren Mahmud adalah pesantren tertua di Bandung, yang berdiri pada paruh kedua abad ke-19, bersamaan dengan tumbuhnya semangat menimba ilmu agama ke daerah-daerah di timur Jawa di kalangan warga Sunda, baik dari kalangan menak, menak kaum maupun Santana. Pesantren ini pun banyak menghasilkan ajengan yang dikenal luas di daerah Bandung. Ulama-ulama dari pesantren ini banyak yang menjadi penasihat bupati Bandung.
Masih sezaman dengan Pesantren Mahmud, di Bandung Barat bagian Selatan, selain Pesantren Mahmud terdapat juga Pesantren Sukafakir. Keberadaan Pesantren Sukafakir diprediksi lebih muda daripada Pesantren Mahmud. Namun, waktu pendirian Pesantren Sukafakir tidak diketahui. Diduga, pada 1870-an, sudah banyak santri yang mulai belajar di Pesantren Sukafakir ini.
Pondok Pesantren Sukamiskin merupakan salah satu pesantren tua yang berlokasi di arah timur dari pusat kota Bandung. Pada decade kedelapan dari abad ke-19, lokasi pesantren ini berada di Distrik Ujung-Berung, tidak jauh dari jalan raya pos. Nama “Sukamiskin” sendiri diambil dari kata “suq” yang berarti pasar, dan “Misq” yang berarti minyak wangi. Nama ini diberikan oleh ajengan Alqo. Nama ini mengasosiasikan pengertian yang sangat indah tentang sebuah tempat yang menebarkan keharuman bagi lingkungan sekitarnya. Semula, nama pesantren ini adalah “Suqmisk”. Namun, karena pelafalan orang Sunda, nama yang lebih dikenal adalah “Sukamiskin”. Nama lainnya yang dikenal adalah Pesantren Gedong. Disebut “Gedong” karena bangunannya bersifat permanen dan gagah.
Pesantren Sukamiskin didirikan oleh Kyai Muhammad Alqo pada 1881. Hingga kini, nama Pesantren Sukamiskin masih bergaung meskipun ketenarannya terlibas oleh dahsyatnya arus perputaran roda zaman. Sejak berdirinya, Pesantren Sukamiskin dikelola dan dipimpin oleh beberapa generasi.[19]
B.     Penyebaran Pesantren di Jawa Barat Awal Abad ke-20 (1900-1945)
Keberadaan dan penyebaran pesantren di wilayah Priangan terus bermunculan dan mengalami peningkatan jumlah. Pada awal abad ke-20, selain terdapat pesantren-pesantren yang telah bertebaran sebelumnya sejak abad ke-19, di wilayah Priangan juga banyak bermunculan dan berdiri pesantren-pesantren baru yang tentu saja akanmenambah khazanah perbendaharaan pesantren.[20] Berikut adalah nama-nama pesantren yang berdiri sejak awal ke-20 sampai 1945 dan penjelasan tentang visi-misi pesantren yang dimaksud.
1.      Pesantren Pangkalan, Pesantren Cipari, dan Pesantren Darussalam
Pesantren Pangkalan, Pesantren Cipari dan Pesantren Darussalam-Wanaraja, pada awal abad ke-20, merupakan pesantren yang pengaruhnya sangat besar di Kabupaten Garut setelah Pesantren al-Falah-Biru dan Pesantren Keresek.Pesantren Pangkalan didirikan oleh Kyai Qurtubi di daerah Tarogong-Garut. Pesantren ini diperkirakan berdiri pada periode awal abad ke-20. Pesantren Pangkalan Garut disebut-sebut pernah menjadi tempat menuntut ilmunya Kyai Badruzaman. Masa kepemimpinan Kyai Qurtubi, bagi Pesantren Pangkalan, merupakan masa keemasan. Sebabnya, selain karena charisma yang melekat kuat dalam dirinya juga karena kemampuannya yang mumpuni dalam mentransfer ilmu-ilmu agama. Saying sekali, pasca-meninggalnya Kyai Qurtubi, secara perlahan-lahan, Pesantren Pangkalan mulai mengalami kemunduran dan kevakuman.[21]
Hampir sama dengan sejarah Pesantren Pangkalan, Pesantren Ciparipun tidak memiliki data yang jelas tentang sejarah kehadirannya. Namun, menurut perkiraan, pesantren ini berdiri antara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang didirikan oleh Kyai Zaenal Abidin. Pada awal pendiriannya, Pesantren Cipari lebih menitikberatkan pada pendidikan nonformal melalui kegiatan pengajian berupa majelis taklim unutk masyarakat, pengajian kitab kuning dan Al-Qur’an untuk para santri.
Pada dekade ketiga abad ke20, kepemimpinan dan pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh Kyai Harmaen. Pada masanya, peran serta Pesantren Cipari di kancah perjuangan bangsa menjadi salah satu bidang garapannya, terlebih ketika di daerah Garut. Sejak berdirinya sampai sekarang, pesantren ini masih eksis dan berkiprah bagi seluruh warga masyarakat. Kepemimpinan dan pengelolaan pesantren dipegang dan dikelola oleh abak-anak Kyai Harmaen yang meneruskan kepemimpinan dari orangtuanya.[22]
Pesantren lain yang memiliki hubungan genealogis dan berdiri pada awal abad 20 adalah Pesantren Darussalam. Sebenarnya, Pesantren Darussalam dan Pesantren Cipari memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Pendiri Pesantren Darussalam adalah Kyai Yusuf Tauziri yang notabene adalah seorang pengasuh Pesantren Cipari. Diduga, Pesantren Darussalam berdiri pada 1939. Kyai Yusuf Tauziri merupakan sosok yang tegas dalam mempertahankan hal-hal yang prinsipil. Beliau adalah ulama yang memiliki keteguhanan dan kekuatan spiritual yang luar biasa tangguh. Kyai Yusuf Tauziri meninggal di Garut pada 1982, dan beliau dimakamkan di lingkungan Pesantren Darussalam Wanaraja.[23]
2.      Pesantren Kudang, Suryalaya, Cilenga, Cintawana, Miftahul Ulum, Mathlaul Khair, As-Salam, Bahrul Ulum, Sukahideung, Sukamanah, dan Cipasung Tasikmalaya
Satu, Pesantren Kudang Tasikmalaya. Pendiri Pesantren Kudang adalah Kyai Muhammad Syujai. Tidak ada informasi yang pasti tentang kapan pesantren ini mulai berdiri. Namun, menurut keterangan, diperkirakan, Pesantren Kudang berdiri antara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.Dua, Pesantren Suryalaya yang berdiri pada 5 September 1905 M/7 Rajab 1323 H oleh Kyai Abdullah Mubarak atau Abah Sepuh. Pada 1956, Kyai Abdullah Mubarok atau Ajengan Godebag meninggal. Kepemimpinan Pesantren Suryalaya selanjutnya diteruskan oleh anaknya, yaitu Kyai A. Sohibul Wafa Tajul Arifin.[24]
Tiga, Pesantren Cilenga. Letaknya di Leuwisari Tasikmalaya. Pesantren ini didirikan oleh Kyai Sobandi atau Kyai Syabandi.[25]Empat, Pesantren Cintawana. Pesantren Cintawana berdiri sejak 1917 M. Pesantren ini didirikan oleh Kyai Mohammad Toha yang lahir pada 1882 M di Kampung Cireule, Desa Banjarsari, Kecamatan Pagerageung, Tasikmalaya. Kyai Mohammad Toha mendirikan dan memimpin pesantren ini selama 28 tahun, dan pada 1945, ia meninggal. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan pengajian Al-Qur’an, tetapi juga mengajarkan Tafsir Al-Qur’an, Jurmiyah, Alfiyah, bahasa asing selain Arab, dan kitab-kitab kuning.[26]
Lima, Pesantren Miftahul Ulum yang eksis di Tasikmalaya sejak abad ke-20. Pesantren ini didirikan oleh Kyai Zaenal Abidin pada 1917. Pada 1946, Kyai Zaenal Abidin meninggal. Sepeninggal Kyai Zaenal Abidin, pengurus dan pengelola pesantren Miftahul Ulum dilanjtukan oleh Kyai A. Najmudin.Enam, Pesantren Al-Mathlaul Khair didirikan oleh Kyai Dimyati pada 1918. Pesantren Al-Mathlaul Khair mengajarkan berbagai ilmu agama yang menjadi pelajaran wajib, seperti Ilmu Fiqih, Tasauf, Tafsir, Nahwu, Sharaf, Badi dan Bayan.
Tujuh, Pesantren As-Salam yang sudah berdiri sejak awal 1920. Pendirinya adalah Kyai Qolyubi, alumni Pesantren Keresek Garut. Pascameninggalnya Kyai Qolyubi, kegiatan pesantren pun secara perlahan-lahan mengalami pasang surut.Delapan, Pesantren Bahrul Ulum. Pesantren Bahrul Ulum ini berdiri atas desakan masyarakat sekitar yang ingin mendalami pendidikan agama. Pendiri pesantren ini adalah Kyai Masduki.[27]
Sembilan, Pesantren Sukamanah. Diprediksi, pesntren ini didirikan pada 1927 oleh Kyai Zaenal Mustafa di kampung Cikembang dengan nama Pesantren Sukamanah.[28]Sepuluh, Pesantren Cipasung. Pesantren Cipasung merupakan salah satu pesantren yang menjadi basis perjuangan para ulama NU di Tasikmalaya. Pesantren yang didirikan oleh Kyai Ruhiyat ini telah berdiri sejak 1931. Pesantren ini berlokasi di Kampung Cipasung, sekitar 2 km dari Kota Singaparna, Tasikmalaya.[29]
3.      Pesantren Al Bidayah Cangkorah, Al Asyikin, Baitul Arqam, Islamiyah-Cijawura, Cikapayang, Sindangsari Al Jawami, Al Ittifaq, Pesantren Persis, Mathlaul Anwar Palgenep, Hegarmanah, Cigondewah, Sinarmiskin, Sadangsari dan Cijerah di Bandung
Satu, Pesantren Al-Bidayah terletak di Jalan Raya Batujajar No. 01 Desa Giriasih RT 03 RW 08 Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Pesantren Al-Bidayah Cangkorah didirikan oleh Kyai Muhammad Asy’arie pada 1907.[30]Dua, Pesantren Al-Asyikin terletak di Kelurahan Pajajaran, Bandung. Pesantren Al-Asyikin telah ada sejak 1912 dan didirikan oleh Kyai Zarkasyi bin Ahmad.
Tiga, Pesantren Baitul Arqam didirikan oleh Kyai Muhammad Faqih pada 1922. Pesantren ini terletak di sebelah selatan Kota Bandung, tepatnya di Jalan Lembur Awi, Desa Pacet, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung.[31]Empat, Pesantren Islamiyah Cijawura. Pesantren ini berdiri pada 1927. Lokasinya di Jalan Terusan Buah Batu, Desa Margasari, kira-kira 8 km dari kota Bandung. Pesantren ini didirikan oleh Kyai Abdussyukur, dengan tujuan utama mengubah sikap masyarakat melalui pengajaran agama.
Lima, Pesantren Cikapayang adalah pesantren yang berlokasi di Kampung Cikapayang, Sukaluyu, Cibeunying, Bandung. Pesantren ini telah ada sejak tahun 1928 dan didirikan oleh Ibrahim Wiratmaja.[32]Enam, Pesantren Sindangsari Al-Jawami. Pesantren ini terdapat di Cileunyi Wetan, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung. Pesantren ini berdiri pada 3 Mei 1931 dan didirikan oleh Kyai Muhammad Syujai.
Tujuh,  Pesantren Al-Ittifaq didirikan oleh Kyai Mansyur pada 1 Februari 1934 M. Pesantren ini berlokasi di Kampung Ciburial, Desa Alam Indah, Kecamatan Ciwidey. Pesantren ini berdiri atas restu Kanjeng Dalem Wiranata Kusumah.[33]Delapan, Pesantren Persatuan Islam No. 1 dan 2 Pajagalan. Pesantren ini terletak di pusat perdagangan Kota Bandung. Pesantren ini merupakan pondok pesantren yang pertama yang didirikan oleh organisasi Persatuan Islam (Persis). Pesantren ini berdiri pada Maret 1936 M/1 Dzulhijjah 1354 H.Sembilan, Pesantren Mathlaul Anwar-Palgenep didirikan oleh Ajengan Sahroni antara 1939-1940. Pesantren Hegarmanah Cibabat didirikan oleh Ajengan Maftuh pada 1939. Pesantren Cigondewah didirikan oleh Ajengan Fakih pada 1939. Pesantren Sinarmiskin didirikan oleh Kyai Ahmad Dimyati pada 1935. Pesantren Sadangsari didirikan oleh Ajengan Sulaeman  pada 1938, Pesantren Cijerah didirikan oleh Ajengan Muhammad Syafi’I pada 1940.[34]
4.      Pesantren Darul Ulum, Pesantren Cidewa/Darussalam, Pesantren al-Quran Cijantung, Pesantren Miftahul Khoer, Pesantren Al-Fadhiliyah (Petir) di Ciamis
        Satu, Pesantren Darul Ulum, Pesantren Cidewa/Darussalam, Pesantren al-Fadhiliyah dan Pesantren Miftahul Khoer adalah empat pesantren yang keberadaannya dapat dikatakan cukup tua, yang ditemukan dan masih eksis di Kabupaten Ciamis.Dua, Pesantren Darussalam Ciamis, didirikan pada 1929 oleh Kyai Ahmad Fadlil.Tiga, Pesantren Al-Quran Cijantung Ciamis. Pesantren ini berlokasi di Desa Sukarapih, Kecamatan Cijantung Kabupaten Ciamis. Pendiri pesantren ini adalah Kyai Siradj yang dikenal luas sebagai lulusan Makkah al-Mukarromah.[35]
        Empat, Pesantren Miftahul Khoer pun termasuk pesantren tertua di Ciamis. Pesantren ini didirikan oleh Kyai Sulaeman Kurdi pada 1940.Lima, Pesantren Al-Fadhiliyah, yang berlokasi di Desa Pusaka Nagara Kec. Baregbeg, Kabupaten Ciamis. Pesantren Al-Fadhiliyah didirikan pada 194 oleh Kyai Ahmad Komarudin.[36]
5.      Pesantren Cantayan, Genteng dan Syamsul Ulum Gunung Puyuh Sukabumi
        Ketiga pesantren ini dapat dikatakan sebagai pesantren tua dan dipandang memliki pengaruh yang besar di daerah Sukabumi. Walaupun diantara ketiga pesantren itu hanya pesantren Samsul Ulum yang masih eksis keberadaannya sampai sekarang dan mengembangkan dakwah Islam, namun kehadiran ketiga pesantren tersebut tidak dapat dipisahkan.[37]



6.      Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo di Banjar
        Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar berlokasi di Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Pesantren ini didirikan pada 1911 oleh Kyai Marzuki, seorang kyai yang berasal dari daerah Kebumen, Jawa Tengah.[38]
7.      Pesantren Pagelaran Sumedang-Subang dan Darul Hikmah di Sumedang
        Dua nama pesantren yang menjadi “produk” wilayah Sumedang adalah Pesantren Pgelaran Sumedang-Subang dan Darul Hikmah. Pesantren Pagelaran didirikan pada 1920 oleh Kyai Muhyidin. [39]Kehadiran Pesantren Pagelaran membawa banyak perubahan bagi kehidupan warga masyarakat. Contoh, daerah Cisalak-Subang, sebelum Pesantren Pagelaran berdiri, terkenal sebagai “daerah hitam”. Daerah ini merupakan daerah yang menjadi tempat berkembangnya praktik-praktik kemusyrikan. Daerah ini juga pernah menjadi daerha komunis. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, setelah Pesantren Pagelaran berdiri, daerah Cisalak saat ini menjadi salah satu daerah agamis di Kabupaten Subang. Sepeninggal Kyai Muhyidin, kepemimpinan Pesantren Pagelaran dilanjutkan oleh anaknya, Kyai Oom Abdul Qoyim Muhyidin.
        Pesantren lainnya yang muncul pada awal abad ke-20 di Sumedang adalah Pesantren Darul Hikmah. Lokasinya di Desa Tanjungmekar, Kecamatan Tanjungkerta, Sumedang. Pondok pesantren ini didirikan pada 1927 oleh Kyai Nahrowi. Selain menyelenggarakan pendidikan klasikal, pesantren ini juga mengembangkan kegiatan keterampilan yang meliputi pertukangan, pertanian dan menjahit.[40]Demikianlah pemaparan secara komprehensif tentang jejak-jejak informasi penyebaran pesantren di wilayah Priangan dari 1800 sampai pertengahan decade keempat abad ke-20.[41]
8.      Pesantren Sempur dan Al-Mutohhar – Kabupaten Purwakarta
        Pesantren tua di Kabupaten Purwakarta adalah Pesantren Sempur dan Al Mutohhar. Pesantren Sempur telah ada sejak dekade kedua abad ke-20. Pesantren ini didirikan pada tahun 1911 oleh K. H. Tubagus Bakri. Bila ditelusuri, K. H.  Tubagus Bakri merupakan anak dari Tubagus Saeda, seseorang yang masih memiliki hubungan geneologis dengan Maulana Hasanudin dari Banten. Setelah menyelesaikan pendidikannnya, K. H. Tubagus Bakri memberanikan diri membuka sebuah pesantren baru. Di antara santri-santrinya yang belajar di pesantren ini selain mereka yang berasal dari daerah sekitar Purwakarta, banyak juga yang berasal dari Banten dan Cirebon. Di antara santri-santrinya yang pernah belajar di Pesantren Sempur, banyak yang menjadi ulama-ulama besar, seperti K. H. Makmum Nawawi dari Cibarusah, K. H. Ahmad Dimyati dari Banten, K. H. Bustomi.128 Sepeninggal K. H. Tubagus Bakri, kepemimpinan di Pesantren Sempur dilanjutkan oleh K. H. R. Muhtar, K. H. Kholil dan K. H. Munawar129 dengan dibantu oleh K. H. .Ahmad Dudus dan K. H. Ahmad Dadih, yang semuanya merupakan keturunan dari K. H. Tubagus Bakri.
        Selanjutnya selain Pesantren Sempur, pesantren lain yang cukup berumur yang terdapat di Purwakarta ialah Pesantren al-Mutohar. Pesantren yang berlokasi di Plered, tepatnya di Cilegok ini didirikan pada tahun 1912. Dari semenjak berdirinya nama pesantren ini telah mengalami tiga kali pergantian. Pada awalnya Pesantren Al-Mutohar bernama Pesantren al-Huda kemudian Darul Ulum dan sekarang bernama al-Mutohhar. Pesantren ini didirikan pertama kali oleh K. H. Toha. Dalam proses awal pendiriannnya, semula pesantren ini hanya memiliki masjid dan kemudian menyusun pondok seiring adanya santri yang mondok di tempat itu. Dari sejak berdirinya pada tahun 1912 Pesantren al-Mutohar telah dipegang oleh empat orang. Setelah K. H. Toha meninggal, kepemimpinan Pesantren al-Mutohhar dipimpin K. H. Sirojudin Toha. Kemudian setelah itu dilanjutkan oleh K. H. Manaf Sholeh.133 Sekarang pesantren ini dipimpin K. H. Syadullah.






BAB III
PENUTUP
A.     Simpulan
Jumlah pesantren di wilayah Jawa Barat, pada waktu dulu, dengan sekarang pasti berbeda. Dalam konteks sekarang, jumlah pesantren di wilayah Jawa Barat dipastikan lebih banyak. Hal ini tentu saja berbeda dengan jumlah pesantren pada abad ke-19 M. Pada abad ke-19 M, jumlah pesantren mungkin masih sangat terbatas. Bahkan, mungkin hanya dapat dihitung beberapa puluh atau mungkin untuk jumlah ratusan pun tidak mencapainya. Berikut adalah di antara beberapa pesantren yang sudah berusia tua dan memberi pengaruh yang sangat besar bagi penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat: Pesantren al-Falah-Biru Garut, Pesantren Sumur Kondang, Pesantren Keresek, Pesantren al-Hidayah, Pesantren Ciwedus, Pesantren Lengkong-Kuningan, Pesantren Santi Asromo-Majalengka, Pesantren Gentur Cianjur, Pesantren Kandang Sapi, Pesantren Jambudipa, Pesantren Minhajul Karomah Cibeunteur-Banjar, Pesantren Mahmud, Pesantren Sukafakir dan Pesantren Sukamiskin.
Keberadaan dan penyebaran pesantren di wilayah Priangan terus bermunculan dan mengalami peningkatan jumlah. Pada awal abad ke-20, selain terdapat pesantren-pesantren yang telah bertebaran sebelumnya sejak abad ke-19, di wilayah Priangan juga banyak bermunculan dan berdiri pesantren-pesantren baru yang tentu saja akan menambah khazanah perbendaharaan pesantren. Berikut adalah nama-nama pesantren yang berdiri sejak awal ke-20 sampai 1945 dan penjelasan tentang visi-misi pesantren yang dimaksud: Pesantren Pangkalan, Pesantren Cipari, Pesantren Darussalam, Pesantren Kudang, Suryalaya, Cilenga, Cintawana, Miftahul Ulum, Mathlaul Khair, As-Salam, Bahrul Ulum, Sukahideung, Sukamanah, Cipasung- Tasikmalaya, Pesantren Al Bidayah Cangkorah, Al Asyikin, Baitul Arqam, Islamiyah-Cijawura, Cikapayang, Sindangsari Al Jawami, Al Ittifaq, Pesantren Persis, Mathlaul Anwar Palgenep, Hegarmanah, Cigondewah, Sinarmiskin, Sadangsari, Cijerah di Bandung, Pesantren Darul Ulum, Pesantren Cidewa/Darussalam, Pesantren al-Quran Cijantung, Pesantren Miftahul Khoer, Pesantren Al-Fadhiliyah (Petir) di Ciamis, Pesantren Cantayan, Genteng, Syamsul Ulum Gunung Puyuh Sukabumi, Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo di Banjar, Pesantren Pagelaran Sumedang-Subang, Darul Hikmah di Sumedang, dan Pesantren Sempur dan Al-Mutohhar – Kabupaten Purwakarta.
B.     Saran
Perkembangan penyebaran pesantren di Jawa Barat merupakan hal yang sangat menarik bagi kita semua, jika kita menelusurinya dengan baik dan benar. Makalah ini, kami hadirkan kepada para pembaca untuk berusaha mengungkapkan bagaimana Perkembangan penyebaran pesantren di Jawa Barat ini merupakan hal yang sangat menarik. Oleh karena itu, kita harus membaca makalah ini dengan seksama karena berisi penjelasan penyebaran pesantren di Jawa Barat.






















DAFTAR PUSTAKA
1.      Buku

Fadlullah, Cholid H. (1994).Tri Sila Hasta Wahana dalam Intisab Persatuan Ummat Islam. Jakarta: Panitia Muktamar IX PUI.

Herlina, Nina. (2011).Perkembangan Islam di Jawa Barat. Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.

Herlina, Nina. (t.th.).Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat. Bandung: Pustaka UNPAD.

Kusdiana, Ading. (2014).Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan 1800-1945. Bandung: Humaniora.

Mas’udi, Masdar. (1986).Direktori Pesantren. Jakarta: Perhimpinan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat.

Rosidi, Ajip. (2000).Ensiklopdei Sunda: Alam, manusia, dan Budaya Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi. Jakarta: Pustaka Jaya.

2.      Artikel dalam Internet

Arifin. “Selayang Pandang Pesantren Al-Falah Biru” dalamhttp://biru-garut.blogspot.com. Diakses tanggal 30 Juni 2010.

3.      Sumber Lisan

Asy’ari, K.H. Obing (82 tahun). Pimpinan Pesantren Ciwedus. Wawancara. Kuningan, tanggal 30 Januari 2010.

Hanif, Ust. (40 tahun). Pengasuh Pesantren Al-Falah Biru dan keturunan pendiri Pesantren Al-Falah Biru. Wawancara. Garut, tanggal 28 Juli 2011.

Ikyan (53 tahun). Pimpinan Pesantren Al-Falah Biru sekaligus anak dari Syekh Badruzzaman. Wawancara. Tasikmalaya, tanggal 12 Desember 2011.

Ismatullah, Ust. M.A.H. (25 tahun). Salah satu pimpinan sekaligus keturunan K.H. Said pendiri Pesantren Gentur Jambudipa Warungkondang. Wawancara. Cianjur, tanggal 12 Februari 2010.

Lilis Hasan Basri, Hj. (60 tahun). Isteri dari K.H. Hasan Basri (alm.) pimpinan kelima dari Pesantren Keresek. Wawancara. Garut, tanggal 13 Januari 2010.






[1]Ading Kusdiana, Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan 1800-1945, (Bandung: Humaniora, 2014), hlm. 122-123.
[2]Ibid.,hlm. 123.
[3]Ibid.,hlm. 123.
[4]Ikyan, wawancara 12 Desember 2011 dalam Ibid., hlm. 123-124.
[5] Pada 1933-1928, M. Raden KH> Asnawi Muhammad Faqieh dan putranya Syekhuna Badruzzaman mengungsi dari kampung Al-Falah, untuk menyebarkan agama Islam di daerah Kab. Tasik yaitu Taraju/ Indularang yang masih menganut agama Hidnu yang kebetulan di daerah Garut sedang terjadi fitnah “Perintah Suntik” dari penjajah Belanda. Sepulang dari pengungsian pengajian dibuka lagi, pada waktu itu Pesantren Al-Falah Bitu mempunyai puluhan ribu murid bahkan pada masa penjajahan Jepang berjumlah ratusan ribu murid sehingga Jepang menyebutnya “Maha Raja” kepada KH. Faqieh yang dibantu oleh puteranya Syekhuna Badruzzaman, karena Jepang melihat kehebatan pengaruhnya melebihi yang lainnya. (Arifin, “Selayang Pandang Pesantren Al-Falah Biru”, http://biru-garut.blogspot.com, tanggal 30 Juni 2010 dalam Ibid., hlm. 124).
[6] Hanif, wawancara 28 Juli 2011 dalam Ibid., hlm. 124.
[7] Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 125.
[8] Nama Keresek diambil dari kata Keresek. Kata ini memiliki keterkaitan dengan cerita adanya dua sejoli pasangan anak muda yang sedang berpacaran, yaitu seorang Menak Sumedang yang berpacaran dengan Menak Limbangan. Di antara keduanya saling mengejar di sebuh padang ilalang sehingga terdengar suara keresek, keresek, keresek … Dari suara itulah pesantren ini dinamakan Keresek (Lilis, wawancara 13 Januari 2010 dalam Ibid., hlm. 125).
[9] Masdar Mas’udi, Direktori Pesantren, (Jakarta: Perhimpinan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, 1986), hlm. 29 dalam Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 126.
[10] Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 127.
[11]Nina Herlina, Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat, (Bandung: Pustaka UNPAD, 2011), hlm. 37-38.
[12]K.H. Obing Asyari, wawancara tanggal 30 Januari 2010 dalam Ibid.,hlm. 39.
[13] Ajip Rosidi, Ensiklopdei Sunda: Alam, manusia, dan Budaya Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi, (Jakarta: Pustaka Jaya, 2000), hlm. 514-515 dalam Ibid.,hlm. 39.
[14] Nina Herlina Lubis, loc. cit., hlm. 41.
[15] Cholid H. Fadlullah, Tri Sila Hasta Wahana dalam Intisab Persatuan
Ummat Islam, (Jakarta: Panitia Muktamar IX PUI, 1994) dalam Nina Herlina Lubis, loc. cit., hlm. 42.
[16] Ismatullah, wawancara tanggal 12 Februari 2010 dalam Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 127.
[17] Nina Herlina, Perkembangan Islam di Jawa Barat, (Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat), hlm. 42 dalam Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 128.
[18] Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 129-130.
[19]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 130-132.
[20]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 134.
[21]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 135
[22]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 136.
[23]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 138.
[24]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 139.
[25]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 140.
[26]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 142.
[27]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 143.
[28]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 145.
[29]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 146.
[30]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 147.
[31]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 148.
[32]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 149.
[33]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 151.
[34]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 153.
[35]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 155.
[36]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 157.
[37]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 158.
[38]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 159.
[39]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 160.
[40]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 161.
[41]Ading Kusdiana, loc. cit., hlm. 162.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar